Minggu, 04 September 2011

Ketulusan Cinta

Hidup sungguh berarti di saat cinta menyentuh hati, jiwa, dan pikiran. Cinta memberikan kekuatan dan makna hidup di setiap langkah dan aktiftas. Tidak jarang pula, cinta mempengaruhi karakteristik dan perkembangan mental seseorang. Bila ia memperoleh cinta yang baik, maka mental dan karakteristik dalam memaknai cinta juga turut akan membaik. Namun bila cinta yang buruk, maka ia akan membentuk karakter dan pemaknaan cinta yang buruk pula.

Makna cinta sesungguh adalah rasa yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia untuk menyayangi, mengasihi mahluk lainya yang diciptakan oleh Sang Kuasa. Namun, manusia cenderung memaknai cinta merupakan hubungan yang berlawanan jenis kelamin (laki-laki, perempuan).Diera perkembangan zaman saat ini, cinta tersebut cenderung dikotori oleh hawa nafsu yang dijalani dengan membetuk hubungan berpacaran, sehingga tak jarang bila hubungan persahabatan antar dua jenis kelamin lebih murni dibandingkan dengan hubungan berpacaran.

Bila ditinjau hubungan berpacaran para kaula muda di masa kini, hal yang sangat sulit diterima logika bila dikatakan hubungan berpacaran tanpa adanya penyaluran hawa nafsu. Walaupun, tidak semua pelampiasan hawa nafsu itu menyebabkan hilangnya keperawanan si gadis. Dikarenakan, tidak setiap hubungan berpacaran menjadikan hubungan yang terlalu bebas. Artinya, dalam hubungan berpacaran itu, masih ada batas ataupun benteng yang dibentuk oleh pasangan sejoli itu.

Salahseorang pria/wanita yang memiliki prinsip menjalin hubungan berpacaran tanpa melakukan hubungan pelampiasan nafsu, terkadang diartikan memiliki kelainan jiwa ataupun memiliki suatu penyakit. Padahal, pria/wanita itu memiliki jasmani yang sehat, hawa nafsu yang normal. Namun karena tidak bereaksi ataupun menolak hubungan pelampiasan nafsu disaat masa berpacaran, kecurigaan tersebut dapat menyebabkan renggang ataupun putusnya hubungan berpacaran itu.

Salahsatu pria yang sangat saya kenal pernah bercerita, di usianya yang masih muda sekitar 18 tahun, ia belum pernah menjalani kehidupan berpacaran. Dalam benaknya, ia sangat menghargai hubungan berpacaran itu merupakan hubungan yang dibentuk bagaikan hubungan persahabatan antar dua jenis kelamin. Sang pacar merupakan teman untuk bercerita, bertukar pikiran, dan tempat curahan hati dengan beberapa aturan yang mengikat secara tersirat. Namun dengan usianya itu, ia pun bertemu dengan seorang wanita yang dicintainya dan menjalin hubungan berpacaran tanpa dikotori hawa nafsu. Karena menurutnya, hubungan berpacaran dengan orang yang dicintai akan lebih berharga tanpa penyaluran oleh hawa nafsu.

Tindakan ini menyebabkan hubungan berpacaran sang pria dengan pujaan hatinya itupun berakhir berselang 3 bulan berikutnya. Awalnya, sang pria berpendapat, berakhirnya hubungan mereka dikarenakan status sosial yang tidak disenangi oleh sang pujaan hatinya. Namun, bak disambar petir, salahseorang teman pujaan hatinya menyebutkan suatu ungkapan bahwa putusnya hubungan mereka dikarenka dirinya bukan seorang laki-laki (tidak memiliki hawa nafsu dengan wanita). Mungkin hal ini merupakan hal yang lumrah, namun tidak demikian bagi sang pria. Ia merasa sangat dihianati oleh pujaan hatinya. Cinta tulusnya kepada wanita pujaan hatinya seakan tidak memiliki arti tanpa adanya tindakan penyaluran hawa nafsu.Pengalaman pahit inipun, menjadi gejolak di bathin sang pria. Bahkan, obsesinya menjalin hubungan percintaan yang tuluspun akhirnya hancur begitu saja oleh karena sang wanita pujaan hatinya telah melakukan penghinaan yang sangat menyakitkan.

Seiring dengan waktu yang berlalu, sang pria pun mencoba membuka lembaran baru. Dan ia pun menemukan pengganti pujaan hatinya yang pertama kali tersebut. Namun, hubungan berpacaran yang kedua kali ini, ia telah menanamkan prinsip bahwa dirinya adalah laki-laki. Hasrat hawa nafsu telah meguasai dirinya dalam menjalin hubungan berpacaran. Dai mangakui, bahwa setiap kali ia bertemu dengan pacarnya tersebut, hasrat nafsu ke laki-laki annya disalurkan kepada sang kekasih sebagai bentuk cintanya kepada sang kekasih dan bentuk kekasihnya terhadap dirinya.

Setelah beberapa kali menjalin hubungan berpacaran, kedewasaan psikologis sang pria pun semakin bertambah. Namun, hasrat menyalurkan hawa nafsu kepada sang pacar telah berubah menjadi kebutuhan. Inipun ia lakukan sebagai bentuk kasih sayang dan cintanya kepada sang pacar dan sebagai bentuk cinta sang pacar kepada dirinya. Bila sang pacar enggan melakukan ataupun menolak, maka ia pun berkesimpulan bahwa sang pacar tidak mencintai dan mengasihinya.

Tiba disuatu waktu, ia pun menjalin hubungan berpacaran dengan seorang gadis dalam jarak yang cukup jauh. Setelah melakukan perkenalan dan menjalin hubungan serta telah melakukan pertemuan kedua kali, sang pria pun ingin suatu pembuktian cinta dan kasih sayang sang gadis terhadapnya dengan menyalurkan hawa nafsu. Namun, sang gadis melakukan penolakan dengan berbagai upaya. Untuk pertama kalinya, ia mengalami kegagalan menuntut pembuktian cinta dan kasih sayang dengan menyalurkan hawa nafsu. Tapi, oleh karena ia telah bertekad untuk menjadikan sang gadis sebagai teman hidupnya (Istri,red), ia pun mencoba tuk bersabar. Hingga beberapa kali dicoba dalam waktu yang berbeda, sang gadis tetap melakukan penolakan.

Dalam benak sang pria, berbagai macam keraguanpun mulai bergejolak terhadap sikap sang gadis. Mulai mempertanyakan keberadaan cinta sang gadis kepadanya, sikap malu-malu sang gadis, atau agar dikatakan belum pernah melakukan pelampiasan hawa nafsu, bahkan kenormalan psikologis sang wanita.

Walaupun pertanyaan itu belum terjawab, ia pun mencoba untuk bersabar dan tetap mempertahankan jalinan hubungan berpacaran itu. Dan dalam waktu yang tidak berapa lama, pertemuan yang ketiga pun terjadi. Namun, sikap sang gadis masih belum berubah. Disetiap kali ia mencium pipi, bibir, sang gadis menunjukkan sikap rasa jijik dengan membersihkan pipi dan bibirnya dengan tangan. Hal ini semakin menguatkan gejolak sang pria bahwa sang gadis pujaan hatinya kemungkinan memiliki ketidak normalan psikologis. Dengan rasa kecewa dan penuh kehati-hatian, sang pria mempertanyakan sikap penolakan tersebut. Namun, yang ia terima adalah, sang gadis masih memiliki hubungan dengan pria lain walaupun tidak pernah berkomunikasi lagi sejak berhunbungan dengannya.

Ungkapan sang gadis menyebabkan adu argumen dan menimbulkan keretakan hubungan harmonis yang telah mereka bina karena rasa cemburu, rasa dihianati menguasai hati dan pikiran sang pria. Hingga iapun bertekad, bila sang gadis tidak membuka diri untuk menerima dan menunjukkan hasrat hawa nafsunya terhadap sang pria, maka ia akan mengakhiri hubungan tersebut walaupun luka hati yang cukup dalam bekecamuk dalam benaknya. Melihat gelagat ini, keesokan harinya sang gadis pun menunjukkan hasrat nafsunya terhadap sang pria.

Namun tidak disangka sang pria, sang gadispun mencoba memberikan pandangannya terhadap jalinan berpacaran. Menurut sang gadis, seluruh tubuhnya akan diperoleh sang pria bila telah berumahtangga. Menujukkan hasrat hawa nafsu yang mereka lakukan merupakan sebagai sikap dipahaminya keinginan sang pria. Ungkapan sang gadis membuat hati sang pria kembali bergejolak. Prinsip Cinta yang tulus dimasa menjalin hubungan berpacaran kembali tergiang dipikiran dan jiwanya. Namun, Cinta tulus yang disebutkan oleh sang gadis masih suatu keraguan yang teramat besar bagi sang pria itu. Ia masih belum yakin, sang gadis pujaan hatinya disetiap malakukan hubungan berpacaran tanpa dikotori oleh penyaluran hawa nafsu. Mungkin itu benar, mungkin pula tidak. Tapi, dia mengakui, ada suatu kekuatan yang menyebutkan bahwa sang gadis berkata jujur oleh karena saat menyebutkan Cinta tulus itu diringi menyebut nama Tuhan. Secara iman, bila seseorang sedang menyebut nama Tuhan, saat itu orang tersebut merupakan sudara (orang yang benar).

Ini merupakan gejolak jiwa yang mempengaruhi sang pria. Iapun ingin kembali seperti yang dulu, memaknai cinta tulus tanpa harus dikotori oleh hawa nafsu hingga waktunya tiba yakni setelah membentuk rumahtangga. Mampukah dia??
Sementara pikirannya, penyaluran hawa nafsu dimasa berpacaran sudah sebagai kebutuhan!!!
Bersediakah sang gadis membantu dirinya kembali sebagai dirinya yang dulu??

Bila sang pria bertekad dan dibantu oleh sang gadis, tentu sang pria akan dapat menjadi sebagai dirinya sendiri seperti yang dulu, memaknai cinta tulus tanpa dikotori oleh hawa nafsu. Tuhan kiranya menyertai dan memberkati dirinya.

(Las)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar